Dosen Kampus Unggul IIB Darmajaya Kupas Strategi Digitalisasi Bisnis Berkelanjutan di Era AI dan Social Commerce

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Transformasi digital yang kian akseleratif menuntut pelaku usaha tidak hanya mengejar popularitas sesaat di media sosial, tetapi juga membangun model bisnis yang kokoh dalam jangka panjang. Menjawab tantangan tersebut, Forum Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi (FAME) menggelar Webinar Nasional bertajuk “Beyond Viral: Strategi Membangun Bisnis Digital yang Bertahan di Era AI dan Social Commerce” pada Minggu (14/6/26) secara daring.

Hadir sebagai narasumber utama, Yan Aditiya Pratama, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya. Dalam paparannya, Yan membagikan strategi praktis mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), penguatan social commerce, serta pentingnya menyelaraskan aspek teknologi dengan pengelolaan manajemen sumber daya manusia (Human Resource Management). Menurut Yan, fenomena viral yang kerap dielu-elukan pelaku bisnis saat ini sering kali tidak berbanding lurus dengan keberlangsungan usaha. Banyak bisnis mampu mencuri perhatian publik dalam sekejap, namun tumbang karena gagal mempertahankan pelanggan dan tidak didukung oleh kesiapan tim internal yang solid. Keberhasilan digital yang sesungguhnya adalah ketika bisnis dapat terus relevan, belajar dari data, memperoleh kepercayaan pelanggan, dan disokong oleh SDM yang adaptif.

Untuk membangun bisnis digital yang berkelanjutan tersebut, Yan mengenalkan kerangka berpikir A.C.R.I.T. yang terdiri dari lima elemen utama, yaitu Attention, Conversion, Retention, Intelligence, dan Trust. Namun, ia menegaskan bahwa kerangka ini tidak akan berjalan optimal tanpa adanya kolaborasi dan pengelolaan manusia sebagai penggerak utamanya. Pada elemen Attention atau perhatian, perusahaan tidak boleh hanya mengandalkan algoritma, melainkan harus melatih tim kreatif agar memiliki empati digital dan kemampuan storytelling yang tinggi guna menciptakan konten yang relevan. Selanjutnya, mengubah ketertarikan menjadi transaksi pada tahap Conversion membutuhkan kesiapan tim penjualan dan layanan pelanggan yang responsif, adaptif, serta mampu menyelaraskan diri dengan sistem otomatisasi.

Langkah ini harus diperkuat oleh aspek Retention atau retensi, di mana loyalitas pelanggan jangka panjang dibangun melalui pengalaman yang positif. Di sinilah pentingnya manajemen membentuk customer-centric culture, yaitu budaya kerja yang memotivasi karyawan untuk memberikan pelayanan terbaik secara tulus dengan sentuhan manusiawi. Sementara itu, pemanfaatan AI dan data besar sebagai wawasan strategis pada aspek Intelligence menuntut peningkatan literasi data pada SDM agar karyawan mampu bekerja berdampingan dengan AI secara optimal. Terakhir, pada elemen Trust yang menjadi fondasi utama, kepercayaan publik harus dibangun dari integritas manusianya melalui penanaman nilai etika kerja yang ketat, terutama terkait transparansi produk dan keamanan data konsumen.

Lebih lanjut, Yan menjelaskan bahwa tren social commerce telah mengubah pola interaksi bisnis menjadi jauh lebih personal karena platform digital kini menjadi ruang interaksi dan pembangunan komunitas merek. Social commerce memang memungkinkan bisnis menjangkau konsumen secara personal, namun tanpa strategi pengelolaan SDM yang tepat yang dibekali kemampuan komunikasi interpersonal yang baik, aktivitas digital hanya akan menghasilkan trafik tanpa konversi maupun loyalitas.

Webinar ini mendapatkan respons positif dari ratusan peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa, akademisi, pelaku UMKM, hingga praktisi bisnis digital dari berbagai daerah. Antusiasme peserta terlihat dari dinamisnya sesi tanya jawab, terutama mengenai cara menyeimbangkan adopsi teknologi tinggi dengan pengelolaan SDM yang humanis. Melalui kegiatan ini, FAME berharap dapat mendorong peningkatan literasi digital masyarakat sekaligus memperkuat pemahaman bahwa transformasi bisnis berbasis teknologi harus berjalan beriringan dengan pengembangan kapasitas manusianya. Diakhir paparannya, Yan menegaskan bahwa pergerakan bisnis harus diarahkan dari sekadar viral menuju viable dan sustainable, sebuah ajakan bagi pelaku usaha untuk membangun bisnis yang tidak hanya dikenal luas, tetapi juga dipercaya, tangguh secara organisasi, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.(**)

Tinggalkan Balasan