Sopater Ayomi : Datang dengan Penyakit, Pulang dengan Peti Mati

Yapen – (deklarasinews.com) – Sebagai Dewan Adat Saireri, Sopater Ayomi menyampaikan apresiasi atas kehadiran LSM LIRA di wilayah adat Saireri dan juga pada momen HUT LIRA ke-16 Tahun dapat melakukan diskusi publik terkait berbagai persoalan yang dialami oleh Orang Asli Papua (OAP), disampaikannya pada kegiatan diskusi publik yang dilakukan DPC LIRA Yapen pada Sabtu, 19/06/2021 di Aula Infokom Serui.

Menurut Sopater, bahwa harapannya dengan diskusi publik yang telah berlangsung tadi telah mengemukakan serangkaian persoalan di RSUD Serui sehingga wajah rumah sakit ini perlu dikembalikan ke asalnya.

Sebab persoalan yang muncul terkait dokter spesialis sesuai kebutuhan yang masih sangat dibutuhkan. Selain itu, kami dari dewan adat minta supaya RSUD Serui dikembalikan kepada wajah orang Papua.

Kenapa perlu dan penting, supaya anak-anak Papua bisa mengambil bagian untuk bekerja disana, sebab yang kami ketahui SDM orang-orang Papua yang bekerja dirumah sakit sudah siap sehingga perlu dikembalikan, Pinta Sopater.

Tegaskan Sopater, terpaksa RSUD Serui diberi nama julukan adat “Datang dengan penyakit, Pulang dengan peti mati” RSUD Serui adalah rumah sakit rujukan diwilayah Saireri khususnya pasien Waropen dan Mamberamo. Namun akhir-akhir ini banyak orang dari Waropen yang sudah takut berobat ke Serui sehingga mereka harus ke Nabire, kenapa demikian, karena mereka takut mati urainya.

Masyarakat dengan susah menyewah speedboat (Sekuci) dengan harga yang besar dengan kondisi ekonomi mereka seperti saat ini hanya untuk berobat ke Nabire maupun ke Biak guna mendapat pelayanan pengobatan terbaik. Ini sudah terjadi, karena mereka takut mati.

“Tadi keluarga saya baru masuk rumah sakit, ada saudara yang datang bilang Bapak tua tadi kitong antar tanta kerumah sakit tapi kami disuruh tanda tangan surat persetujuan operasi tapi kitong takut sebab kalau kitong tanda tangan takut tanta de mati”

Berharap supaya perubahan pemerintah daerah dalam hal ini sebagai pengawas/ orangtua bertanggungjawab sebagai pengawas agar bertindak sebagai orangtua dalam melakukan pengawasan, perlu selalu turun langsung kerumah sakit melihat kondisi yang sebenarnya terjadi, pintanya.

Harusnya sebagai pengawas atau orangtua di RSUD, melakukan peninjauan langsung pada kondisi-kondisi  yang terjadi. Perlu lihat seorang dokter itu bekerja sudah sesuai dengan standar pelayanan dengan tindakan yang tepat atau bagaimana supaya adanya pelayanan yang baik diberikan kepada pasien.

Apakah pelayanan yang dilakukan sudah bagus kah tidak, sebab yang bisa mengontrol adalah pemerintah daerah dan RSUD Serui adalah rumah sakit daerah jadi perlu dikontrol tegas Ayomi.

Ditambahkannya lagi bahwa ketika RSUD Serui pindah dari lokasi lama ke wilayah adat Kuraen di Wainakawini. Saya heran karena tidak ada suatu proses adat seperti Kakesi kah dalam pemindahan RSUD, kenapa perlu suatu proses adat, supaya  roh-roh jahat yang ada di negeri ini tidak ikut ke lokasi baru RSUD Serui di wilayah adat Kuraen tegas Ayomi.

Dari perspetif masyarakat adat, saya heran karena tidak ada acara adat/ kakesi kah agar roh-roh yang ada di negeri ini tidak ganggu rumah sakit. Karena rumah sakit lama tua dari jaman Belanda tapi tidak terasa seram disana.

Rumah sakit baru yang dibangun di disana ini seperti kuburan tua, jadi orang mau masuk itu lihat ada gang-gang kecil jadi orang takut.

Ketika malam lampu mati  orang mau masuk, itu seramnya luar biasa. Sehingga coba dibuat yang bagus supaya jadi rumah sakit yang luar biasa guna adanya kenyamanan pasien berobat disana.

Dalam hal pemberian nama seperti nama rumah sakit di Waropen diberikanan nama Torodo Fabo dalam bahasa Waropen yaitu, Kebaikan banyak didapatkan disana. Berharap supaya pelayanan rumah sakit Serui seperti  itu, datang mendapat kebaikan.

Kalau kerumah sakit saja kitong lihat disaat kerja, petugas saja dorang maen HP (Ponsel) tiap hari, pasang infus juga tetap main HP, pasien sudah sesak nafas dan mo mati baru de lepas HP, urainya.

Diharapkan supaya disiplin dari petugas dalam bekerja perlu diperhatikan, Pesan khusus kepada Direktur RSUD Serui dr. B. Abaa supaya jangan dirumah saja tetapi datang kontrol petugas di RSUD. Seperti dimalam hari perlu datang diam-diam seperti intelejen mengontrol langsung tanpa pemberitahuan agar memastikan tugas-tugas petugas yang bekerja disana dengan baik.

Perlu dikontrol itu gunanya memastikan petugas itu ada bekerja, atau tidur atau jangan sampai ada yang sedang pergi Karoke Tegas Ayomi. Mengapa saya katakana demikian, sebab saya punya data yang banyak bahwa ada petugas yang datang kerumah sakit untuk kerja, tapi tinggalkan motor di rumah sakit dan gunakan motor teman untuk pergi Karoke, Model pelayanan petugas seperti diatas terus dibiarkan, maka pasien meninggal tentu banyak, keluh Ayomi.

Yang terakhir, cinta kepada prosfesi dalam arti instin sebagai seorang perawat itu sudah hilang di Serui. Kami umpamakan seperti ini, ketika seorang ibu (Mama) merawat anak-anaknya yang Kaskado, Kusta, de melihat soal rasa sebagai seorang ibu dengan hati maka perawatannya kepada anak-anak itu pasti donk akan sembuh, harapnya.

Ditambahkan lagi bahwa RSUD Serui ini masih perlu dicari dan diberikan nama  sebab nama yang indah akan memberikan kebaikan, seperti nama rumah sakit Waropen “Kebaikan yang banyak didapatkan”, karena RSUD Serui tinggalnya di wilayah adat Kuraen jadi perlu cari nama dari bahasa Kuraen, tutup Ayomi. (ed.zri).

Tinggalkan Balasan