Ketika Kekuasaan Tidak Terawasi Maka Kemanusiaan Akan Menjadi Korban

Benz Jono Hartono

Praktisi Media Massa

Wadir CAJ PWI Pusat

ED HIAWATHA Institut

Kekuasaan pada dasarnya adalah amanah. Ia diberikan bukan untuk dipamerkan, bukan untuk dipakai menindas, dan bukan pula untuk mengukuhkan kesombongan segelintir manusia di atas penderitaan rakyat banyak. Namun sejarah dunia telah berkali-kali membuktikan, ketika kekuasaan tidak diawasi, maka ia berubah menjadi monster yang melahap nilai-nilai kemanusiaan.

Tidak ada tirani yang lahir secara tiba-tiba. Semua berawal dari pembiaran. Dari rakyat yang dibungkam. Dari kritik yang dianggap ancaman. Dari hukum yang dipelintir demi melayani penguasa. Dari aparat yang kehilangan nurani. Dan dari elite yang mulai merasa dirinya lebih tinggi daripada konstitusi dan moralitas.

Ketika kekuasaan berdiri tanpa pengawasan, maka yang pertama kali mati adalah keadilan. Setelah keadilan roboh, kebenaran akan dibeli. Setelah kebenaran dibeli, hukum hanya akan tajam kepada rakyat kecil namun tumpul kepada pemilik kuasa dan modal. Pada titik itulah negara perlahan kehilangan jiwanya.

Sejarah bangsa-bangsa besar menunjukkan bahwa kehancuran sering bukan datang dari serangan musuh luar, melainkan dari kerakusan elite di dalam negerinya sendiri. Kekuasaan yang tidak dikontrol akan melahirkan budaya takut. Media dibungkam. Aktivis dicurigai. Mahasiswa diawasi. Ulama dibatasi. Bahkan rakyat dipaksa diam demi menjaga citra penguasa.

Padahal kritik bukan ancaman bagi negara. Kritik adalah vitamin demokrasi. Pengawasan bukan tindakan makar. Pengawasan adalah pagar agar kekuasaan tidak keluar jalur. Sebab manusia, siapapun dia, tetap memiliki nafsu, ambisi, dan kelemahan.

Itulah sebabnya dalam kehidupan berbangsa diperlukan sistem yang sehat,  pers yang merdeka, lembaga hukum yang independen, parlemen yang berani, serta rakyat yang sadar hak dan kewajibannya. Tanpa semua itu, kekuasaan akan berjalan liar seperti kendaraan tanpa rem.

Lebih berbahaya lagi ketika penguasa mulai membangun kultus individu. Saat rakyat dipaksa menganggap pemimpin tidak boleh salah. Ketika pujian lebih dihargai daripada nasihat. Ketika penjilat mendapat tempat terhormat sementara orang jujur disingkirkan. Di situlah awal kehancuran moral sebuah pemerintahan.

Kemanusiaan selalu menjadi korban pertama dari kekuasaan yang rakus. Rakyat kecil kehilangan tanahnya. Buruh kehilangan haknya. Anak-anak kehilangan masa depannya. Dan suara-suara kebenaran perlahan dihilangkan dari ruang publik.

Ironisnya, banyak penguasa lupa bahwa jabatan hanyalah sementara. Hari ini dipuja, besok bisa dilupakan sejarah. Hari ini dielu-elukan, besok bisa dipertanggungjawabkan di hadapan rakyat dan Tuhan. Tidak ada kekuasaan yang abadi. Yang abadi hanyalah akibat dari tindakan kekuasaan itu sendiri.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang memiliki penguasa paling kuat, tetapi bangsa yang mampu mengawasi kekuasaan agar tetap tunduk pada nilai kemanusiaan, keadilan, dan moralitas. Sebab tanpa pengawasan, kekuasaan mudah berubah menjadi alat penindasan yang menghancurkan martabat manusia.

Maka jangan pernah alergi terhadap kritik. Jangan pernah membenci pengawasan. Karena ketika kekuasaan tidak terawasi, sesungguhnya yang sedang menunggu untuk menjadi korban adalah kemanusiaan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan