Andi Desfiandi: Expo Mahasiswa X UMKM Jadi Bukti Kolaborasi Generasi Muda dan Pengusaha

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Yayasan Alfian Husin terus mendukung pengusaha muda Lampung dalam menghadapi tantangan ekonomi daerah di Provinsi Lampung. Dia juga meminta kepada Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Lampung ikut membantu membangun Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di provinsi Ini.

“Expo UMKM yang digelar saat ini adalah bukti nyata bahwa mahasiswa dan UMKM bisa berkolaborasi untuk membangun ekonomi daerah. Pengusaha Lampung harus hadir, mendukung, dan mengambil bagian dalam gerakan ini,” kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Alfian Husin Dr. Andi Desfiandi, S.E., M.A., menanggapi gelaran Expo di Lapangan Basket Kampus IIB Darmajaya, Kamis (25/6/26)

Ia menekankan bahwa APINDO Lampung memiliki peran strategis dalam menghubungkan dunia usaha dengan kebijakan pemerintah. “APINDO harus menjadi mitra yang aktif, sehingga pengusaha Lampung termasuk UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang,” tambahnya.

Andi juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap UMKM. Menurut dia, UMKM adalah tulang punggung ekonomi Lampung. Dengan akses permodalan, pendampingan, dan digitalisasi, mereka bisa menjadi motor penggerak ekonomi lokal,” jelasnya.

Selain itu, Yayasan Alfian Husin berkomitmen mendukung peningkatan kapasitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung bersama UMKM. Expo ini adalah contoh nyata pembelajaran berbasis pengalaman,” tegasnya.

Expo yang digelar di Lapangan Basket IIB Darmajaya menghadirkan ratusan tenant UMKM dari berbagai sektor, mulai dari kuliner, fashion, hingga produk kreatif berbasis digital. Mahasiswa berperan aktif sebagai mitra promosi, desain, dan pemasaran, dan pendampingan sehingga tercipta ekosistem kolaborasi yang saling menguntungkan.

Andi menilai kegiatan ini sebagai langkah konkret untuk memperkuat daya saing UMKM Lampung. “Ketika mahasiswa turun langsung, mereka membawa ide segar dan energi baru. UMKM mendapatkan dukungan kreatif, sementara mahasiswa memperoleh pengalaman nyata di dunia usaha,” katanya.

Dalam konteks Musyawarah Provinsi APINDO Lampung, Andi berharap lahir kepengurusan yang solid. “Sinergi antara pengusaha, APINDO, mahasiswa, dan pemerintah adalah kunci menuju Lampung yang maju dan berdaya saing,” ujarnya.

Ia menutup dengan optimisme bahwa Lampung akan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Sumatera. “Dengan kerja sama erat, kita bisa menjadikan Lampung sebagai contoh daerah yang maju berkat kekuatan pengusaha lokal dan kolaborasi generasi muda,” pungkasnya. (**)

Camaba Hukum Bisnis Ini Ungkap Alasan Pilih Kampus Unggul IIB Darmajaya: UKT Bersahabat dan Fasilitas Lengkap

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Bagi calon mahasiswa baru (camaba) Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, Amelia Agustin, memilih perguruan tinggi bukan hanya soal program studi, tetapi juga mempertimbangkan kualitas dan biaya pendidikan yang terjangkau. Lulusan SMA Swadhipa Natar tersebut mantap memilih Program Studi Hukum Bisnis karena menilai IIB Darmajaya memiliki fasilitas yang lengkap, akreditasi yang baik, dan UKT yang ramah di kantong.

Menurut Amelia, berbagai keunggulan yang dimiliki IIB Darmajaya menjadi alasan utama dirinya menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di kampus biru tersebut.

“Saya memilih IIB Darmajaya karena fasilitasnya bagus dan lengkap. Akreditasinya juga baik, serta UKT-nya terjangkau sehingga tidak terlalu membebani orang tua,” ujarnya saat diwawancarai pada Senin (22/6/26).

Amelia menuturkan, sebelum menentukan kampus tujuan, dirinya aktif mencari informasi mengenai perguruan tinggi yang dapat memberikan kualitas pendidikan yang baik dengan biaya yang sesuai kemampuan keluarga. Dari berbagai pilihan yang ada, IIB Darmajaya dinilai mampu memenuhi harapannya.

Selain mempertimbangkan aspek akademik, Amelia juga melihat banyak peluang yang dapat mendukung pengembangan minat dan bakat mahasiswa. Selama bersekolah di SMA Swadhipa Natar, ia dikenal aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tari.

Pengalaman tersebut membuatnya ingin tetap berkarya dan mengembangkan kemampuan di bidang seni saat memasuki dunia perkuliahan. Karena itu, Amelia tertarik untuk bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang seni tari yang ada di IIB Darmajaya.

Camaba Hukum Bisnis itu mengaku ingin memperdalam kemampuannya dalam berbagai jenis tarian, mulai dari tari tradisional hingga tari modern. “Saya tertarik mengikuti UKM Seni Tari karena ingin terus mengembangkan kemampuan yang sudah saya miliki. Saya juga ingin belajar lebih dalam mengenai tari tradisional maupun modern serta menambah pengalaman dan relasi dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama,” katanya.

Keaktifannya di bidang seni, menurut Amelia, akan menjadi bekal berharga selama menjalani kehidupan kampus. Ia berharap dapat menyeimbangkan prestasi akademik dengan kegiatan organisasi dan pengembangan bakat. (**)

Kampus Unggul IIB Darmajaya Borong 4 Penghargaan LLDikti Wilayah II, Nomor 1 untuk Penelitian, SINTA, dan Akreditasi

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya kembali meraih penghargaan dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah II dalam Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi di Hotel Emersia pada Selasa, (23/6/26).

Raker mengusung tema “Membangun Ekosistem Inovasi Semesta: Hilirisasi Riset Berdampak dan Elevasi IKU Perguruan Tinggi untuk Peningkatan Mutu Pendidikan”. Hadir langsung seluruh pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta dari Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung.

IIB Darmajaya mendapatkan empat penghargaan peringkat 1 terdiri dari Kategori Penerima Pendanaan Program Penelitian Tahun Anggaran 2026 Berdasarkan Jumlah Judul yang Didanai, Score SINTA, dan Kategori Akreditasi Perguruan Tinggi dan Program Studi. Selain itu juga meraih penghargaan peringkat 2 Kategori Penerima Pendanaan Program Penelitian Tahun Anggaran 2026 Berdasarkan Nominal Pendanaan.

Rektor IIB Darmajaya RZ Abdul Aziz, S.T., M.T., Ph.D., mengucapkan syukur alhamdulillah atas penghargaan yang diraih dari LLDikti Wilayah II. “Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan atas kerja keras, kolaborasi, dan komitmen seluruh civitas academica dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi, tata kelola institusi, serta kontribusi dalam bidang penelitian, pengabdian, dan inovasi. Capaian empat penghargaan dari LLDikti Wilayah II ini adalah hasil kerja bersama seluruh elemen kampus. Ini bukan hanya sebuah prestasi, tetapi juga amanah untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing institusi,” ujar Rektor.

Rektor menegaskan bahwa IIB Darmajaya akan terus memperkuat transformasi di bidang akademik dan nonakademik, memperluas kerja sama, serta mendorong inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi dan memberikan kontribusi terbaik bagi pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya di bawah koordinasi LLDikti Wilayah II,” tutupnya. (**)

Guru Besar UBL Dorong Feminisme Pancasila Jadi Jalan Tengah Penguatan Hak Politik Perempuan Bali

BALI -(deklarasinews.com)- Guru Besar Hukum Pidana Universitas Bandar Lampung (UBL), Prof. Dr. I Ketut Seregig, S.H., M.H., mendorong penguatan hak politik perempuan Bali melalui pendekatan yang tidak hanya bertumpu pada norma global, tetapi juga berakar pada nilai konstitusional, demokrasi lokal, dan kearifan budaya Indonesia.

Gagasan tersebut disampaikan Prof. Seregig dalam presentasi ilmiahnya berjudul “Hak Politik Perempuan Bali: Demokrasi Lokal, Gender, dan Norma Global” pada International Conference on Human Rights, Governance & Sustainable Futures (ICHRGSF) 2026 yang digelar secara hybrid di Bali, 22 Juni 2026.

Forum internasional tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas isu hak asasi manusia, tata kelola, kesetaraan, demokrasi, dan masa depan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Prof. Seregig yang juga mengemban tugas kepanditaan Hindu dengan nama Ida Rsi Agung Acharya Dwijananda menegaskan bahwa hak politik perempuan merupakan bagian fundamental dari hak asasi manusia dan demokrasi. Menurutnya, penguatan hak politik perempuan tidak cukup hanya mengandalkan instrumen hukum formal, tetapi juga membutuhkan pembacaan yang sensitif terhadap konteks sosial dan budaya masyarakat.

Indonesia, kata dia, telah memiliki landasan konstitusional yang kuat melalui Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Komitmen tersebut juga diperkuat melalui ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan atau CEDAW, serta agenda Sustainable Development Goals poin 5 tentang kesetaraan gender.

Namun, dalam praktiknya, kesetaraan perempuan dalam politik masih menghadapi tantangan serius, terutama di tingkat lokal. Bali menjadi salah satu ruang kajian penting karena memiliki sistem sosial, adat, dan demokrasi lokal yang kuat.

Di satu sisi, Bali memiliki tradisi musyawarah, partisipasi kolektif, serta kelembagaan adat seperti desa pakraman dan paruman. Namun di sisi lain, struktur sosial patriarkal masih berpengaruh terhadap akses perempuan dalam kepemimpinan, representasi politik, dan proses pengambilan keputusan.

“Kesetaraan politik perempuan tidak cukup hanya dilihat dari angka keterwakilan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perempuan memperoleh ruang partisipasi yang bermakna, setara, dan diakui dalam proses demokrasi,” demikian gagasan utama yang ditekankan dalam penelitian tersebut.

Penelitian Prof. Seregig menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Sumber kajian meliputi literatur akademik, peraturan perundang-undangan, laporan pemerintah, serta publikasi organisasi masyarakat sipil.

Analisis penelitian tersebut berpijak pada Feminisme Liberal dan Teori Difusi Norma. Feminisme Liberal digunakan untuk menekankan pentingnya kesetaraan hak dan kesempatan, sedangkan Teori Difusi Norma menjelaskan bagaimana nilai-nilai global seperti kesetaraan gender diadaptasi ke dalam konteks lokal.

Dari dua perspektif tersebut, Prof. Seregig menawarkan Feminisme Pancasila sebagai kerangka konseptual yang dinilai lebih sesuai dengan konteks Indonesia. Pendekatan ini dipandang mampu menjembatani norma global tentang kesetaraan gender dengan nilai budaya lokal tanpa menempatkan keduanya sebagai kekuatan yang saling bertentangan.

Menurutnya, Feminisme Pancasila berakar pada nilai kemanusiaan, keadilan, musyawarah, dan penghormatan terhadap keberagaman budaya. Berlandaskan Sila Kedua Pancasila, yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, perempuan dan laki-laki ditempatkan sebagai subjek politik yang setara, sekaligus tetap menghormati tradisi lokal dan prinsip demokrasi adat yang hidup dalam masyarakat.

Dalam konteks Bali, penelitian ini menemukan bahwa demokrasi lokal sesungguhnya telah memiliki nilai-nilai yang mendukung partisipasi dan kesetaraan. Nilai Paras-Paros mengajarkan penghormatan terhadap perbedaan pendapat, Tat Twam Asi menekankan kemanusiaan dan kesetaraan, sedangkan Salunglung Sabayantaka mengajarkan solidaritas serta kerja sama sosial.

Meski demikian, nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya mampu menghapus hambatan struktural yang dihadapi perempuan. Perempuan Bali masih menghadapi keterbatasan finansial, beban waktu akibat tanggung jawab domestik dan sosial, minimnya pengalaman politik, terbatasnya akses terhadap jaringan politik, rendahnya dorongan politik, serta kuatnya norma patriarki dalam masyarakat adat.

Penelitian ini juga mencatat adanya perkembangan positif dalam representasi politik perempuan Bali. Keterwakilan perempuan meningkat dari sekitar 9,09 persen pada 2019 menjadi 16,36 persen pada 2024. Walaupun masih berada di bawah target afirmatif 30 persen, peningkatan tersebut menunjukkan adanya perubahan penerimaan sosial dan politik terhadap perempuan sebagai aktor demokrasi lokal.

Prof. Seregig menegaskan, hambatan politik perempuan tidak boleh dipandang semata-mata sebagai persoalan individu. Persoalan tersebut merupakan bagian dari ketimpangan struktural yang membutuhkan perubahan sosial, budaya, kelembagaan, dan kebijakan secara berkelanjutan.

Karena itu, Feminisme Pancasila dinilai dapat menjadi jalan tengah yang konstruktif. Pendekatan ini tidak menolak adat dan budaya, tetapi mendorong penafsiran ulang terhadap nilai lokal agar lebih inklusif terhadap perempuan.

Dengan demikian, demokrasi lokal tidak hanya berfungsi menjaga harmoni sosial, tetapi juga harus mampu memperluas ruang keadilan bagi seluruh warga, termasuk perempuan.

“Norma global dan budaya lokal tidak harus diposisikan sebagai dua kutub yang berlawanan. Keduanya dapat diselaraskan melalui nilai-nilai Pancasila untuk membangun demokrasi yang lebih adil, inklusif, dan berakar pada budaya bangsa,” tegas Prof. Seregig.

Prof. Seregig juga menyimpulkan bahwa kemajuan hak politik perempuan Bali tidak dapat hanya diukur dari peningkatan jumlah kursi perempuan dalam lembaga politik. Ukuran yang lebih substantif adalah kemampuan sistem demokrasi lokal menghadirkan partisipasi yang bermakna, kesetaraan substantif, serta ruang pengambilan keputusan yang adil dan inklusif.

Gagasan tersebut dinilai relevan dalam diskursus nasional mengenai penguatan demokrasi, kesetaraan gender, dan perlindungan hak asasi manusia di tengah keberagaman budaya Indonesia. Feminisme Pancasila, dalam konteks ini, ditawarkan sebagai pendekatan yang tidak hanya normatif, tetapi juga kontekstual, dialogis, dan berakar pada identitas kebangsaan.

Kehadiran akademisi UBL dalam forum internasional ini sekaligus menegaskan kontribusi UBL dalam pengembangan kajian hukum, demokrasi, hak asasi manusia, dan isu keberlanjutan di tingkat global. Melalui partisipasi tersebut, UBL terus memperkuat peran akademiknya dalam mendorong pemikiran kritis, riset kontekstual, serta solusi ilmiah atas persoalan kebangsaan dan global.

Mantap Pilih Kuliah di Prodi Teknik Informatika Kampus Unggul Darmajaya, Alumnus SMA Fransiskus Ini Ingin Punya Game Sendir

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Kesempatan merasakan pengalaman kuliah satu semester di luar negeri melalui program Student Mobility menjadi daya tarik utama bagi Clara Cantika Oktaviana, lulusan SMA Fransiskus, untuk melanjutkan pendidikan di Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya. Selain tertarik dengan program internasional yang dimiliki kampus, Clara juga memilih Program Studi Teknik Informatika karena ingin mengembangkan hobinya di bidang komputer dan mewujudkan cita-cita sebagai pengembang game.

Clara mengaku telah mengetahui bahwa mahasiswa IIB Darmajaya memiliki kesempatan mengikuti program Student Mobility ke berbagai perguruan tinggi mitra di luar negeri, termasuk di Tiongkok. Peluang tersebut membuatnya semakin yakin menjadikan IIB Darmajaya sebagai pilihan untuk menempuh pendidikan tinggi.

“Saya memilih Darmajaya karena tertarik dengan program Student Mobility. Saya tahu mahasiswa Darmajaya berkesempatan kuliah di luar negeri, salah satunya ke China. Saya berharap nantinya bisa mengikuti program tersebut dan merasakan pengalaman kuliah satu semester di luar negeri,” ujarnya saat diwawancarai pada Senin (22/6/2026).

Selain tertarik dengan program internasional, Clara juga memiliki minat yang besar terhadap dunia teknologi. Sejak kecil, ia gemar bermain komputer dan terus mengikuti perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

“Dari kecil saya memang suka bermain komputer. Karena itu saya ingin belajar lebih dalam tentang teknologi dan bercita-cita bisa membuat game sendiri,” ungkapnya.

Ketertarikan tersebut mendorong Clara memilih Program Studi Teknik Informatika. Menurutnya, program studi ini dapat menjadi wadah untuk mengembangkan kemampuan di bidang pemrograman, pengembangan perangkat lunak, hingga teknologi digital yang saat ini semakin dibutuhkan di berbagai sektor.

Bagi Clara, kesempatan belajar di lingkungan internasional melalui program Student Mobility akan menjadi pengalaman berharga untuk menambah wawasan, memperluas relasi, serta memahami perkembangan teknologi dari perspektif global. Ia optimistis pengalaman akademik yang diperoleh selama kuliah di IIB Darmajaya akan membantunya mewujudkan impian menjadi seorang game developer sekaligus meningkatkan daya saing di era digital. (**)

Expo dan Seminar Bisnis IIB Darmajaya Dorong Jiwa Wirausaha dan Kepedulian Sosial

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)- Gelaran EXPO UMKM X Mahasiswa di Lapangan Basket IIB Darmajaya pada 25–26 Juni 2026, menjadi ajang kolaborasi inspiratif antara dunia akademik dan pelaku usaha mikro.

Kegiatan yang mengusung tema besar “Kolaborasi Kreatif, Inovasi Tanpa Batas!” yang dikemas dengan kegiatan sosial Donor Darah, mencerminkan semangat kepedulian dan inovasi mahasiswa. Ketua Pelaksana, Novi Herawati Sudibyo, S.Kom., M.T.I., mengatakan kegiatan ini bukan sekadar pameran, tetapi juga wadah pembelajaran nyata bagi mahasiswa.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori pengembangan bisnis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.”

Berbagai stan UMKM binaan mahasiswa tampil memamerkan produk kreatif, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga teknologi digital. Suasana lapangan basket IIB Darmajaya akan dipenuhi antusiasme pengunjung yang datang untuk melihat inovasi mahasiswa sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan donor darah yang digelar bersama PMI.

Selain kegiatan sosial, expo yang akan diikuti 130 UMKM ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan komunikasi, manajemen, dan pemasaran. Setiap stan dikelola secara profesional dengan konsep Outcome-Based Education (OBE) yang menekankan hasil nyata dari proses pembelajaran. “Ikuti juga seminar bisnis dengan tema; Transformasi Pembelajaran OBE dalam Membangun Kompetensi Entrepreneurship Mahasiswa,” kata dia.

Sudibyo menambahkan bahwa konsep OBE yang diterapkan dalam kegiatan ini menjadi model pembelajaran inovatif di lingkungan kampus. Ia menjelaskan, “Mahasiswa belajar langsung dari pengalaman, berinteraksi dengan pelaku usaha, dan memahami bagaimana nilai sosial dapat menjadi bagian dari strategi bisnis.”

Kepala UPT Ikubator Bisnis dan Teknologi (Inkubitek) IIB Darmajaya Lilla Rahmawati, S.Sos., M.M. menjelaskan kegiatan ini akan diikuti lebih dari 130 UMKM. Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata sinergi antara kampus dan masyarakat. “Expo ini bukan hanya ajang promosi produk, tetapi juga bentuk kontribusi sosial mahasiswa Darmajaya dalam membangun empati dan solidaritas.”

 

Kegiatan donor darah yang menjadi bagian dari expo, lanjut Lilla, mendapat sambutan hangat dari civitas akademika dan masyarakat sekitar. PMI Lampung turut hadir memberikan dukungan penuh, memastikan proses donor berjalan aman dan nyaman bagi para peserta.

Sementara itu, Koordinator Publikasi dan Promosi Expo Kolaborasi UMKM X Mahasiswa, Lukman Hakim, S.P., M.M., menyoroti pentingnya publikasi kegiatan semacam ini sebagai bentuk promosi positif kampus. “Kami ingin masyarakat melihat bahwa IIB Darmajaya bukan hanya mencetak akademisi, tetapi juga generasi muda yang peduli dan berjiwa wirausaha.”

Nantinya, dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 25 dan 26 Juni 2026, akan dimeriahkan dengan seminar kewirausahaan yang akan digelar Prodi Manajemen IIB Darmajaya. Semangat kolaborasi dan kepedulian menjadi pesan utama yang mengalir dari setiap kegiatan expo.

“Dengan perpaduan antara entrepreneurship dan kemanusiaan, EXPO UMKM X Mahasiswa & Donor Darah di IIB Darmajaya menjadi simbol nyata bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi motor penggerak perubahan sosial yang berkelanjutan”. (**)

 

⁠Mantap Pilih Kampus Unggul Darmajaya di Prodi Teknik Informatika

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)– Perkembangan teknologi yang semakin pesat mendorong banyak generasi muda untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan. Salah satunya adalah Zalikha Cahya Early, lulusan SMA Life Skill Kesuma Bangsa Lampung, yang memilih melanjutkan pendidikan di Program Studi Teknik Informatika Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya.

Bagi Zalikha, kemampuan di bidang teknologi informasi menjadi salah satu kompetensi yang sangat dibutuhkan saat ini. Karena itu, ia ingin mempelajari teknologi secara lebih mendalam dan tidak hanya menjadi pengguna.

Menurutnya, Program Studi Teknik Informatika memiliki relevansi yang tinggi dengan perkembangan zaman serta menawarkan prospek karier yang luas di berbagai sektor industri.

“Alasan utama aku memilih Prodi Teknik Informatika karena prodi ini sangat relevan dengan zaman sekarang. Aku ingin menguasai teknologi dan belajar lebih dalam, bukan cuma menjadi pengguna saja. Di informatika, peluang kerja setelah lulus juga luas banget, mulai dari web developer sampai data analyst. Walaupun aku belum paham banget sekarang, tapi inshaallah pasti bisa, jadi investasi waktu selama kuliah terasa sepadan,” ungkapnya saar diwawancarai pada Jumat (19/6/2026).

Keinginan untuk terus belajar dan berkembang di bidang teknologi semakin memantapkan langkah Zalikha memilih Teknik Informatika sebagai jalan meraih cita-citanya. Ia meyakini pengalaman dan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan akan menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.

Selain program studi yang sesuai dengan minatnya, Zalikha juga memiliki alasan tersendiri memilih IIB Darmajaya sebagai tempat menempuh pendidikan tinggi. Menurutnya, lingkungan kampus yang nyaman dan mendukung kreativitas anak muda menjadi daya tarik utama.

Ia juga menilai reputasi Darmajaya sebagai kampus unggulan di bidang teknologi informasi dan bisnis menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pilihan.

“Alasan utama aku masuk Kampus Darmajaya karena lingkungan kampusnya sangat bagus dan support untuk anak muda. Darmajaya juga dikenal sebagai kampus IT dan bisnis terbaik. Menurut aku, ini tempat yang paling pas untuk mendalami ilmu informatika,” ujarnya.

Dengan semangat belajar yang tinggi, Zalikha berharap dapat memanfaatkan setiap kesempatan selama perkuliahan untuk meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, dan mengembangkan kemampuan di bidang teknologi informasi. Ia optimistis langkahnya bergabung di Program Studi Teknik Informatika IIB Darmajaya akan membuka peluang menuju masa depan yang cerah di era digital. (**)

UBL Dorong Lampung Jadi Pelopor Talent Matching Ecosystem di Indonesia

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)— Universitas Bandar Lampung (UBL) mendorong Lampung menjadi pelopor pengembangan Talent Matching Ecosystem di Indonesia. Gagasan ini menekankan pentingnya perubahan paradigma pendidikan nasional, dari sekadar menghasilkan lulusan menjadi sistem yang mampu menemukan, mengembangkan, dan mencocokkan talenta anak bangsa dengan masa depan yang tepat.

Gagasan tersebut disampaikan Rektor Universitas Bandar Lampung, Prof. Dr. Ir. M. Yusuf S. Barusman, MBA, dalam paparan bertajuk “Membangun Pendidikan Holistik Melalui Talent Matching Ecosystem: Menyiapkan Generasi Indonesia Emas 2045” pada Lampung Post Executive Forum II 2026, Kamis, 18 Juni 2026, di Gedung Mahligai Agung Pascasarjana UBL.

Forum yang mengangkat tema “Meningkatkan APK Pendidikan Tinggi Lampung Menuju Indonesia Emas 2045” itu turut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A.

Dalam paparannya, Prof. Yusuf menegaskan bahwa tantangan pendidikan Indonesia tidak lagi cukup dijawab dengan memperbanyak jumlah lulusan. Pendidikan, menurutnya, harus mampu memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi, karakter, dan kecocokan talenta dengan kebutuhan industri serta arah pembangunan nasional.

Menurutnya, persoalan pendidikan hari ini tidak hanya terletak pada angka kelulusan atau perluasan akses, tetapi juga pada ketidaksesuaian antara pendidikan, pilihan karier, dan potensi individu. “Banyak anak berhasil lulus, tetapi belum berhasil menemukan dirinya. Inilah akar persoalan yang harus kita jawab bersama,” ujar Prof. Yusuf.

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini menghadapi triple mismatch, yakni education mismatch, career mismatch, dan talent mismatch. Kurikulum belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan industri, pilihan jurusan tidak selalu berujung pada karier yang relevan, sementara bakat dan kekuatan unik peserta didik belum teridentifikasi secara sistematis.

Kondisi tersebut berdampak pada tingginya tantangan pengangguran terdidik dan rendahnya produktivitas sumber daya manusia. Dalam materi yang dipaparkan, disebutkan bahwa meskipun Indonesia memiliki jutaan angkatan kerja produktif, dunia usaha dan industri masih menghadapi kesulitan menemukan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan.

“Persoalan utama bukan sekadar kekurangan sumber daya manusia, tetapi kekurangan talenta yang tepat untuk menjawab kebutuhan zaman,” tegasnya.

Bagi Lampung, tantangan tersebut dinilai semakin strategis. Sebagai pintu gerbang Sumatera dengan populasi lebih dari sembilan juta jiwa, Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan talenta. Namun, daerah ini masih menghadapi persoalan talent outflow, yakni ketika anak-anak terbaik Lampung melanjutkan pendidikan atau bekerja di luar daerah dan tidak kembali membangun daerah asalnya.

Selain itu, angka partisipasi kasar perguruan tinggi Lampung disebut masih berada pada angka 24,38 persen, di bawah target nasional pemerintah sebesar 32,85 persen. Kondisi ini menunjukkan masih banyak lulusan SMA/SMK yang belum melanjutkan pendidikan tinggi atau mengikuti pelatihan kompetensi lanjutan.

Prof. Yusuf menilai rendahnya partisipasi pendidikan tinggi tidak selalu disebabkan oleh keterbatasan kampus atau biaya. Akar persoalan yang lebih mendasar adalah belum kuatnya kesadaran siswa terhadap hubungan antara potensi diri, pilihan pendidikan, profesi, dan masa depan. “Pendidikan tinggi harus mampu menjawab pertanyaan besar anak muda: siapa dirinya, ingin menjadi apa, dan mengapa pendidikan penting bagi masa depannya,” katanya.

Sebagai solusi, UBL mendorong penguatan Talent Matching Ecosystem, yaitu sistem terintegrasi yang menghubungkan potensi siswa dengan jalur pendidikan, pilihan profesi, kebutuhan industri, dan pembangunan daerah.

Ekosistem ini dirancang agar setiap anak tidak hanya belajar, tetapi juga mampu memahami bakat, karakter, aspirasi karier, serta jalur pengembangan dirinya secara lebih terarah.

Konsep tersebut dibangun melalui empat tahapan utama. Pertama, Lampung Talent Mapping, yakni pemetaan bakat, karakter, dan minat karier siswa SMA/SMK sejak kelas X. Kedua, Career Discovery Program bagi siswa kelas XI untuk membantu mereka menyusun peta jalan karier personal.

Ketiga, Talent Matching Platform, yaitu platform digital provinsi yang memberikan rekomendasi jurusan, sertifikasi, magang, hingga profesi masa depan berbasis data talenta. Keempat, pembentukan Lampung Talent Ecosystem yang melibatkan pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, industri, dan dunia usaha.

Dalam ekosistem tersebut, pemerintah berperan sebagai orkestrator kebijakan, sekolah menjadi pusat penemuan talenta, perguruan tinggi bertindak sebagai akselerator pengembangan talenta, industri menjadi pengguna sekaligus perancang bersama kurikulum, dan dunia usaha berperan sebagai investor pengembangan sumber daya manusia.

Prof. Yusuf menegaskan bahwa abad ke-21 menuntut pendidikan yang lebih holistik. Jika abad ke-20 merupakan era pemerataan akses pendidikan, maka abad ke-21 harus menjadi era pemerataan kesempatan bagi setiap anak untuk menemukan dan mengembangkan talentanya.

“Pendidikan masa depan bukan lagi tentang membuat semua anak belajar hal yang sama, tetapi membantu setiap anak menemukan siapa dirinya, mengembangkan potensinya, dan menghubungkannya dengan masa depan yang paling tepat,” pungkasnya.

Melalui gagasan Talent Matching Ecosystem, UBL mendorong Lampung menjadi daerah pelopor dalam pengembangan talenta berbasis data di Indonesia. Model ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi unggul, produktif, dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045.(Red)

Bongkar Rahasia Sukses dari Nol dalam CEO Talk FEB Expo 2026! IB Ilham Malik Gembleng Mahasiswa FEB IIB Darmajaya Jadi Pemimpin Masa Depan

BANDAR LAMPUNG -(deklarasinews.com)– Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya menghadirkan Chairman & Chief Executive Officer (CEO) Malcon Engineering Group Dr. Eng. Ir. IB Ilham Malik, ASEAN Eng. dalam CEO Talk rangkaian FEB Expo 2026 yang digelar secara hybrid pada Sabtu, (20/6/26).

Kegiatan CEO Talk diikuti oleh mahasiswa dari FEB IIB Darmajaya terdiri dari mahasiswa Pascasarjana dan mahasiswa sarjana. Sebagai moderator Fitria Agustina, S.E., M.Acc. Akt. dan hadir juga para ketua Prodi dan dosen FEB IIB Darmajaya.

Dekan FEB IIB Darmajaya Dr. Winda Rika Lestari, S.E., M.M., mengatakan CEO Talk ini merupakan rangkaian dari FEB Expo 2026 dengan tema “Membangun Karakter Kepemimpinan yang Responsif dan Bertanggung Jawab Menghadapi Tantangan Organisasi Modern”. “Seperti yang kita ketahui bahwa dunia ini berubahnya begitu cepat. Begitu juga dalam memimpin sebuah organisasi atau institusi yang profit maupun nonprofit semuanya bergerak cepat mengikuti perubahan teknologi, perubahan peradaban dan segala bentuk yang memengaruhi kehidupan modern,” ungkapnya.

Dr. Winda melanjutkan bahwa pada kesempatan ini waktu yang sangat tepat dan CEO Talk menjadi rangkaian utama dalam FEB Expo 2026. “Harapannya menambah pengetahuan di kampus ini. Menjadi bahan penguat Anda di kehidupan kerja dan bisa menjadi leader yang dicintai dan disayangi,” ujarnya.

Sementara, IB Ilham Malik memaparkan mengenai awal mula merintis usaha dan membangun karir hingga mendirikan Malcon Group. Pemimpin tidak hanya duduk tetapi juga turun ke lapangan.

“Semakin banyak masalah yang teridentifikasi maka semakin besar peluang menjadi pengusaha. Sebab pengusaha adalah penyedia penyelesaian suatu masalah bangsa dan negara. Jadilah pengusaha yang bermanfaat membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan,” ucapnya.

Ilham juga berpesan kepada mahasiswa bahwa baik menjadi profesional atau pengusaha adalah sama dalam berkontribusi memajukan bangsa dan negara. “Yang penting sejak awal sudah direncanakan, dan ditujukan agar menjadi manusia yang bermanfaat dekat dengan Tuhan dan dekat dengan orang tua,” pungkasnya. (**)

FEB IIB Darmajaya Go International! Pakar Filipina Bongkar Rahasia Bisnis Masa Depan Berbasis Green Economy dan ESG

BANDAR LAMPUNG –(deklarasinews.com)- Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya menggelar rangkaian FEB Expo 2026 dengan Visiting Professor secara daring menghadirkan Dr. Sherwin G Matalandang, DiSDS dari College of Business Education and Governance Phillippines pada Sabtu, (20/6/26).

Visiting Professor diikuti seluruh mahasiswa dari FEB IIB Darmajaya meliputi mahasiswa S2 yakni Magister Manajemen dan Magister Manajemen Teknologi. Juga diikuti mahasiswa S1 dari Prodi Manajemen, Prodi Akuntansi, dan Prodi Bisnis Digital.

Dalam sambutannya Wakil Dekan FEB Aswin, S.E., M.M. mengatakan di era globalisasi dan transformasi digital saat ini, perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki wawasan internasional, kemampuan adaptasi, serta jejaring global yang kuat. Oleh karena itu, kolaborasi lintas negara melalui kegiatan seperti Visiting Professor dan Guest Lecture menjadi bagian penting dalam mewujudkan internasionalisasi pendidikan tinggi.

“IIB Darmajaya terus berkomitmen membangun kemitraan strategis dengan berbagai institusi pendidikan di dalam maupun luar negeri sebagai upaya meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi. Kami percaya bahwa pertukaran gagasan, pengalaman, dan praktik terbaik dari berbagai negara akan memperkaya proses pembelajaran serta membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, harapannya para mahasiswa dapat memperoleh wawasan baru mengenai perkembangan dunia bisnis, tata kelola organisasi, kewirausahaan, dan tantangan ekonomi global yang terus berkembang. Pengetahuan tersebut akan menjadi bekal penting dalam mempersiapkan generasi muda yang mampu bersaing di tingkat internasional. “Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti pada sebuah kuliah umum semata, tetapi menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas antara IIB Darmajaya dan College of Business Education and Governance, Philippines,” tuturnya.

Sementara, Dr. Sherwin G Matalandang memaparkan topik “Driving Business Competitiveness Through Green Economy, Suistanable Performance dan ESG”. Perkembangan teknologi yang pesat membuat perubahan dalam bisnis ataupun perusahaan.

Berdasarkan data, Dr. Sherwin menyampaikan tahun 1981 – 2005 terjadi kerusakan dan pengabaian lingkungan akibat eksploitasi berkelanjutan yang dilakukan oleh perusahaan di dunia. Hal ini juga membuat belahan dunia terjadi perubahan iklim.

Selanjutnya, dengan kondisi tersebut kini setiap perusahaan membuat strategi dalam peningkatan efektivitas kerja menggunakan teknologi khususnya dalam mengurangi pemanasan global atau yang disebut Green Economy. Efektivitas dilakukan dalam mengurangi biaya operasional dengan penggunaan teknologi hijau atau yang sering disebut Green Energy.

Dr. Sherwin menuturkan dengan hal tersebut, strategi perusahaan modern tetap dapat berkembang dan meraup keuntungan finansial dengan menjaga lingkungan sekitar. Oleh karena itu juga, SDM yang saat ini harus disiapkan juga dapat menyesuaikan lingkungan perusahaan ataupun industri siap dalam adaptasi green energy dan green economy. (**)